Melankolia IV: Negosiasi Jiwa



Hal yang paling telat untuk ku sadari adalah bahwa aku telah mati pada saat itu. Selebihnya, aku hidup tanpa jiwa. Seperti layaknya layangan yang sedang malayang di angkasa. Tanpa angin dan paksaan dari tangan-tangan yang memaksanya terbang, layangan tersebut hanya akan tergeletak di tanah, tanpa manfaat apapun. Begitulah yang aku rasakan sekarang. Jiwaku melayang pergi. Ragaku seperti terbaring di atas tanah tanpa bisa aku mengumpulkan tekad untuk membangunkannya kembali.

Walaupun tidak tampak, tetapi telah ada lubang di hatiku yang tidak dapat tertutup kembali. Hampa, suram, seakan aku tidak berdaya lagi di dunia ini. Semesta menghukumku dengan hukuman paling kejam, yaitu aku tidak dapat meneruskan masa depanku. Bagai lingkaran setan dan seakan aku hidup di dalamnya. Melompati adegan demi adegan yang selalu berulang di kepalaku. Hal itu pun membuat lubang di hatiku bertambah besar.

Sekilas rasanya aku hanya tertawa. Aku menjinakkan diriku yang lainnya. Selebihnya, yang aku dapati hanya kesengsaraan akibat ulahku sendiri. Badanku meringkih perih. Aku terombang-ambing dalam lautan kesalahanku. Tidak ada yang perlu dimaafkan kecuali diriku sendiri.

Jika bisa kau kembalikan hal ini, maka selamatkanlah aku dari diriku sendiri. Kembalikan diriku kepada posisi semula. Aku hancur tanpa cinta.

Bagaimana aku bisa merasa lagi dan memaafkan diriku sendiri. Imajinasi terasa sangat lembut, mematikan, tidak hentinya membelaiku dengan berkata semua baik-baik saja. Di saat semuanya tidak baik. Aku ingin kembali ke saat itu, untuk meneriakkan kepadamu bahwa aku mencintaimu, dan kau mencintaiku, tetapi kau salah dengan merampas jiwaku. Aku ingin hidup. Aku ingin merasa lagi. Aku ingin pulih.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memulai Semua Dari Nol

Belajar Memelihara Kucing Dengan Aplikasi “Neko Atsume”!

Doa yang Terjawab: Kuliah Online