Memulai Semua Dari Nol




Di tengah pandemi yang nampaknya belum usai ini, banyak pelajaran yang aku ambil, banyak nikmat yang Tuhan berikan untukku. Aku melihat dunia bukan dari satu sisi keegoisanku lagi. Memulai semua dari nol tidaklah pernah mudah. Entah sudah berapa banyak kesalahan yang aku lalui sebelumnya. Semua itu aku jadikan pelajaran supaya aku tidak tersandung lagi di kemudian hari.

Aku sekarang sedang memasuki pertengahan umur, peralihan, ketika semuanya berubah menjadi... aku harus lebih mandiri dan siap menghadapi dunia. Umur yang terbilang sangat produktif. Kalau ditanyakan, hal apa yang aku mulai dari nol...

Pertama, dari segi pendidikan

Kedua, dari segi akhlak

Ketiga, dari segi hubungan dengan manusia

Hanya tiga hal, memang terbilang sedikit, tetapi cukup sulit untuk menjalaninya. 

Dari segi pendidikan, bukannya aku tidak menerima pendidikan yang layak, akan tetapi aku harus mengulangnya. Hal tersebut akibat dari ketidakinginanku untuk mengungkapkan isi hati kepada orang tua. Istilah gampangnya salah jurusan. Teman-teman sebayaku, sudah memulai karirnya dan beberapa sudah menikah. Aku di sini harus memulai semua dari nol lagi, tak apa. Aku bahagia karena sekarang aku sudah mendapatkan jalanku, dan tidak peduli apa perkataan orang lain terhadapku. Hidupku, aku yang menjalani, aku yang bisa mengerti, dan hanya aku yang bisa mencintai diriku sendiri. Tidak semua orang harus menempuh jalan hidup yang sama. Jika semuanya monotone, lantas betapa kelabunya hidup ini, benar kan?

Dari segi akhlak, oh... tentu banyak sekali tata krama yang harus aku perbaiki. Aku belajar ulang tentang membentuk mindset yang baik di alam pikiranku, aku belajar bagaimana mengelola keuangan, bagaimana menyikapi dan berkomunikasi dengan keluarga besar, bagaimana aku harus membantu mengatur kegiatan yang ada di rumah (karena aku masih tinggal bersama dengan orangtua dan adikku), bagaimana aku harus bersikap kepada Tuhan (beribadah, menjalankan syariat agama, mencintai Tuhan dalam kehadiranNya di kehidupanku sehari-hari). Dengan sabar, penuh ikhlas, aku mencoba memperbaiki semuanya. Inginku, selalu menjadi lebih baik dan terbaik versi diriku sendiri setiap harinya.

Dan segi hubungan dengan manusia, ini adalah yang terberat bagiku.

Kalau kalian bisa bertanya dengan orang-orang terdekatku yang ada di sekelilingku, mereka akan bilang bahwa aku ini irit kata.

Bukannya irit kata tetapi aku tidak bernafsu untuk berbicara yang remeh, no small talking,please. Aku selalu bingung menanggapi pembicaraan yang seperti itu. Jujur juga, terlalu banyak berbicara terkadang membuatku lelah. 

Karena itulah... dengan segenap tenaga yang tersisa, aku mulai mengubah kebiasaan dan jalan pikiranku tentang small talks ini. Aku mulai memberanikan diri berbicara dengan orang asing, aku mulai berani untuk menjadi berbeda, menjadi lebih asyik tetapi tetap menjadi diriku sendiri. Aku harus mencintai diriku seutuhnya. Aku tidak pernah memaksa diriku, jika memang sudah terlalu lelah, aku berhenti sejenak. Aku tidak berbohong tentang hal ini. Karena itulah, aku banyak mengisi tenagaku sehabis bercakap dengan orang lain dengan melakukan kegiatan dengan diriku sendiri seperti menonton film, membaca buku, bahkan memasak. Hal yang aku lakukan sendirian tanpa ada orang di sekitarku.

Hal lainnya adalah mulai membuka diri kepada keluarga, sahabat, teman terdekat. Aku sungguh peduli dengan mereka, akan tetapi aku tidak bisa dan malu untuk mengatakan bahwa aku peduli. Sekarang aku lebih responsif lagi. Aku lebih berempati, memahami. Aku utarakan semua cinta yang ku punya untuk mereka, tulus dari hati.

Tidak kalah menariknya dengan hubungan bersama pasanganku. Aku bukan pecinta yang handal, aku masih perlu banyak belajar. Sering aku dan pasanganku terjatuh berdua, ribut satu dengan lainnya, tetapi kami sudah berkomitmen dan kami selalu berusaha untuk bangkit. Cintaku tidak pernah sedikit untuk diberikan kepadanya, pasanganku pun memahami hal tersebut. Berjalan beriringan menuju kedewasaan dan kemandirian sambil tetap berpegang teguh kepada Sang Pencipta. 

Terus belajar dan memperbaiki diri menuju arah yang lebih baik, pribadi yang lebih bermanfaat bagi sekitar, menjadi rahmat untuk dunia.

Sebelum sampai di penghujung tahun 2020 dan awal tahun 2021, semoga saja tulisan ini bisa terus membuatku teringat akan semua hal yang sudah aku mulai dari nol lagi. Suatu hari nanti, aku yakin bisa berbagi kisahku lebih mendalam kepada dunia. Bersama kesulitan, datang kemudahan, aku yakini firman Tuhan itu. 


nb: aku rindu bertatap muka dengan langit biru, semoga pandemi ini cepat usai, jadi aku bisa main keluar :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Memelihara Kucing Dengan Aplikasi “Neko Atsume”!

Doa yang Terjawab: Kuliah Online