Melankolia III : Kenari di Dalam Teko
Terkadang, hidup sebercanda itu denganku. Menggelitik aku sampai aku menangis tersedu. Jika dilihat sekilas, aku tidak bisa beradu pandang dengan hidup itu sendiri. Sampai pada akhirnya, aku menyerah, dan aku berkata sambil mencaci, "Tidak punya rasa kau, wahai kehidupan! Ambil saja semua milikku dan rusak itu semua dalam satu waktu!". Hanya terkekeh saja dia terhadapku, padahal aku sudah kuatkan dan bulatkan tekadku untuk berkata seperti itu.
Pernah sekali waktu, aku merenung sebelum tertidur. Akan jadi apakah aku nantinya. Sambil berucap-ucap, berkomat-kamit, satu.. dua... tiga... ayo jangan tidur dahulu! Tetap saja, mimpi lebih kuat daripada tekadku untuk merencanakan kehidupanku. Ya sudahlah, tak apa. Besok akan aku ulangi lagi dan semoga saja aku segera menemukan jawabannya.
Apakah kalian pernah meilhat sesuatu begitu saksama?
Aku pernah.
Ku ceritakan pada kalian. Waktu itu sore hari, dan langit terasa begitu jingga menyilaukan sampai menusuk dagingku. Aku menemukan sebiji kecil kenari di atas tanah yang waktu itu baru saja terkena hujan. Aku pungut dan bersihkan dengan kemejaku. Agak terasa jijik ketika mengusap tanah basah tersebut dengan kemejaku, akan tetapi, aku lebih ingin melihat si kenari itu bersih. Aku kantongi dan bawa pulang.
Sesampainya di rumah, aku perhatikan biji tersebut. "Mengapa warnanya coklat?", pikirku. Kemudian aku membayangkannya bisa tumbuh... dan tumbuh... dan tumbuh tinggi, ramping, dalam keadaan prima, menjadi sebuah pohon besar yang kokoh. Kemudian, sang kehidupan mulai mengejekku kembali. "Congkak sekali kamu, membayangkan kehidupan yang bukan milikmu. Kau kira bisa membantu?". Aku abaikan saja dia. Aku menyimpannya di dalam teko. Ku tinggal pergi sebentar.
Rasa itu aku tak pernah tau, sampai halnya, aku bisa merasakannya sendiri. Indah, mempesona, membahagiakan, rasanya aku seperti dalam negeri dongeng yang sungguh indah. Saking indahnya, tertusuk aku dari belakang dan aku dapati diriku berdarah-darah, dan luka. Aku berusaha mencabut dan menahan luka di diriku. Tetap saja darah mengalir juga seperti halnya kau melihat air terjun di antara hutan kabut itu. Aku menangis, tentu saja! siapa juga yang tidak akan menangis jika tertusuk dan berdarah seperti itu?
Luka dalam diriku belum sembuh total sepenuhnya. Aku tidak bisa menangis lagi, yang aku rasakan hanya mencoba dan berusaha untuk mengabaikan perihnya yang masih nyata adanya. Aku tertawa sambil menyeleneh melihat betapa buruknya keadaanku saat itu.
Oh ya, aku lupa dengan si biji kenari yang aku simpan dalam teko milikku. Akhirnya aku bebaskan dia. Aku kembalikan dalam kubur bersama dengan para cacing yang sedang asyik mengebur tanah dengan semangatnya. Aku tidak tau apakah akan menjadi tinggi subur si biji itu. Aku berharap, dia bisa menyelamatkan dirinya sendiri dan bertumbuh seiring waktu. Aku ucapkan selamat tinggal untuknya. Aku merasa sangat emosional waktu itu. Akhirnya, aku pun pulang, dan menghitung lagi dalam tidurku. Kali ini, akhirnya bisa ku dapati apa yang menjadi tujuan hidupku, yaitu meniupkan ruh cinta kepada semua makhluk di sekelilingku.

Komentar
Posting Komentar