Melankolia II : Anak-Anak Bintang


Aku yakin, aku memimpikan hal yang sama denganmu.

Malam itu, aku bermimpi, sedang duduk manis di padang rumput yang luas. Angin terasa sejuk walaupun sedikit membuatku lebih merapatkan kancing jaketku, dan menyembunyikan kedua telapak tanganku ke dalam kantung-kantung hangatnya. Aku ingat bahwa kamu ada di sisiku dan melakukan hal yang sama. Ketika wajah kita memandang satu sama lainnya, kita hanya tersenyum. Tidak ada kata yang keluar sedikit pun di malam itu.

Bersama memandang luasnya langit, yang bahkan tidak bisa kita berdua gapai dengan tangan kosong kita. Langit malam yang gelap, dengan bintik-bintik terangnya bintang. Berkelap-kelip bagaikan sebuah sinyal yang merasuki mata, membuat sebuah fantasi visual yang memanjakan.

Aku menekuk kedua kaki ku, dan memeluknya. Malam yang romantis, dengan suguhan bintang, dan hangatnya kasih yang kamu pancarkan hanya dari ekspresi tubuhmu.

Aku tahu bahwa itu hanya mimpi, tetapi aku bersyukur telah memimpikan hal tersebut.

Kita adalah anak-anak yang terlahir dari sebuah bintang yang besar. Kita adalah penjelajah angkasa. Kita dilahirkan dengan cinta semesta yang bahkan tidak bisa terangkai dengan kata. Semuanya itu, menjadikan kamu dan aku yang sekarang, dan bisa bercanda gurau, berbagi cerita, saling menyentuh satu sama lainnya hingga akhirnya suatu saat nanti kita akan kembali menjadi butiran debu bintang. Terbang ke angkasa luas. Aku yakin, kita akan kembali bertemu di sana.

Jika suatu saat terlahir kembali, aku ingin bertemu denganmu, jatuh cinta lagi sama seperti dahulu, dan tidak melupakan janji kita untuk tetap bersama melihat keindahan bintang sambil tersenyum bahagia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memulai Semua Dari Nol

Belajar Memelihara Kucing Dengan Aplikasi “Neko Atsume”!

Doa yang Terjawab: Kuliah Online