Melankolia I : Penjelajah Ruang Waktu




Sekilas, aku melemparkan pikiranku, melewati batas ruang waktu, dan kembali ke masa sekitar 10 tahun yang lalu. Aku sengaja membuat diriku tersenyum kalau mengingatnya. Keterbatasan berkomunikasi, sebagian besar seputar itu, menjadikannya sebuah memori yang menggelitik suasana hati. Aku mengingat beberapa hal konyol dan memalukan yang pernah ku buat selama tahun-tahun itu. Sebuah memori yang terbungkus rapih, beserta hiasan dan pernak pernak-pernik seluruh kejadiannya. Aku ambil contoh ketika aku melakukan suatu hal yang sangat biasa di mata remaja, tetapi kualat luar biasa di mata orangtua.

Singkatnya, saat itu, aku menginginkan kebebasan. Aku mencari orang-orang yang menurutku bisa membantuku mencari kebebasan itu. Melampaui batas, di luar nalar. Aku ingat saat itu bahkan aku enggan kembali ke rumah. Sebuah ponsel tua yang menghubungkanku dengan cinta pertama. Berkenalan dengan asap rokok yang menari di depan mataku. Malam-malam kelam itu. Menurutku, hal itu lumrah bagi orang seumuranku, dan terlihat keren tentunya.

Ku kembalikan lagi pikiranku ke saat ini, dan ku sadari betapa konyolnya hal tersebut. Seperti sengatan listrik, membuatku bergidik ngeri, dan enggan mengulanginya lagi, seraya berkata, “Betapa memalukannya!”.

Hidupku di sini, saat ini, detik ini. Aku berusaha menjalani sisa waktuku dengan kehadiran sepenuhnya, dan seutuhnya di waktu yang sekarang ini. Tetapi, lagi-lagi menggoda imanku. Aku berputar kembali dalam ruang waktu. Aku bertanya kepada kekasihku, “Kau ingat sewaktu ini.. dan itu…”. Aku tau, dia hanya menertawakanku, karena betapa melankolisnya aku. Sayang, aku hanya ingin bisa menjadi penjelajah ruang waktu bersamamu. Tetapi ku tahu, kau itu palsu. Bahkan aku tidak tahu apakah cintamu itu sepolos ucapanmu.

Yang lebih menyakitkan lagi adalah, ketika memori itu diabadikan, dalam secarik kertas dengan visualisasinya. Aku paling ingat dengan kucing-kucing kesayanganku. Dalam memori di secarik kertas, aku bisa memandang mereka, terperangkap di dalam memori itu selamanya. Aku mendesahkan nafasku, berat rasanya. Asalkan kau tahu, hanya kucing saja yang bisa ku pelihara sejauh ini. Karena itulah, aku hanya bisa mengambil potret satu jenis hewan saja.

Seandainya percintaanku bisa seperti itu, seperti kucing-kucing yang menjadi hewan satu-satunya yang bisa ku pelihara. Maksudku, aku juga ingin tidak banyak mencintai, dan hanya berlabuh pada satu. Ah, tapi pikirku, mana bisa aku seperti itu. Terlalu banyak kesalahannya. Lebih baik ku kubur saja dan melemparkannya ke dalam sebuah lubang hitam besar. Jadi, aku tidak akan mampir kembali ketika menjelajahi ruang waktu.

Masih dengan raga yang sama, waktu yang berbeda. Masih dengan jiwa yang sama, tetapi rasa yang berbeda. Masih dengan kekecewaan yang menggerogoti dan sama saja seperti waktu dulu, tetapi hanya berbeda pelakunya. Kemudian aku menangis tersedu, karena ruang waktuku hancur.

Aku yang menghancurkannya.

Membenci tidaklah mudah, jika itu orang yang kau cintai. Mengagungkannya bahkan melewati, lebih dari sekedar batas hamba dan Tuhannya. Kesalahan, ataukah dosa?

Dan lagi, aku kembali di sini. Masih dengan pemikiran, apakah bisa ku tembus ruang waktu ke masa depan? Supaya aku tidak melakukan dosa maupun kesalahan? Tidak semudah itu memberikan jiwa dan ragaku kepada orang-orang yang salah? Ataukah benar kata tetua tentang kisah cinta dan kehidupan?

Terkadang, aku ingin mengakhiri seluruh kisruh yang disebabkan oleh otak kecilku ini. Mematikan saklarnya, menyanyikan nina bobo untuknya. Berkata, “Selamat jalan, kawan! Sejatinya, aku sudah mati rasa, jiwa, dan raga. Jangan tiupkan lagi ruh kehidupan padaku kelak, karena aku telah tahu rasanya, pedihnya, menjadi penjelajah ruang waktu dengan penuh keputus-asaan”.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memulai Semua Dari Nol

Belajar Memelihara Kucing Dengan Aplikasi “Neko Atsume”!

Doa yang Terjawab: Kuliah Online