Sebelumnya, Aku Tidak Pernah Suka Hujan




Aku tidak pernah suka hujan

Tapi, semuanya berbeda ketika aku terjebak di dalam hujan bersama seseorang. Hari itu tidak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa hujan akan turun dengan derasnya. Aku sadar bahwa aku ini tipe yang rewel, sedikit kena basah saja sudah ngomel. Bahkan, aku benci dengan suara hujan, petir, genangan air di sepanjang jalan. Yang bisa mengubah semua kebencianku itu hanya satu hal, cinta.

Oke, sebelumnya aku mau mengatakan bahwa aku bukan bucin!

Sekarang ini, populer istilah lebay, bucin, baper, dsb. Menurutku, kata-kata seperti itu akan mengubah persepsi seseorang dan akan merobek emosional yang seseorang rasakan. Aku justru bersyukur karena cinta, aku bisa melihat dunia bukan hanya sebelah mata saja, tidak melihat sebelah sisi secara berat sebelah, tidak menilai tanpa mengetahui semua alasan dibalik suatu tindakan. Memang, yang aku ceritakan ini lebih ke romansa dengan pasangan. Tapi, siapa sih yang gak sumringah kalau sedang jatuh cinta? termasuk aku dong tentunya.

Di tengah jalan, tiba-tiba saja hujan deras, dan saat itu pula aku dan pasanganku itu naik motor. Aku sempat bercanda dengannya, "Tuh kan, seharusnya tadi kita mampir ke bioskop, beli tiket, dan nonton star wars!". Aku hanya bercanda saja karena saat itu memang sudah malam, dan aku dalam keadaan lelah sehabis menghadiri 2 event bersamaan.

Daripada hujan, aku masih lebih memilih panas terik. Walaupun yah, aku memang lebih suka menghabiskan waktu sebagian besar di rumah, aku tidak perlu berpanas ria atau melewati beceknya jalanan. Malam itu, bagiku, adalah malam yang sangat spesial.

Aku memiliki rasa takut yang teramat besar untuk pasanganku, karena aku sadar bahwa aku bukanlah seseorang yang terbaik untuknya. Aku tidak bisa sempurna, tetapi aku berusaha untuk seperti itu. Di sisi lain, aku bahagia dan sangat bersyukur karena hal tidak terduga ini bisa membawaku kepadanya, bertemu dengannya, hal yang sangat membuatku bahagia. Sebelumnya, aku tidak pernah seberani ini untuk mengungkapkan kedekatanku dengan seseorang, bahkan dengan ibu atau ayahku. Akan tetapi, setelah ku jalani perlahan, dan orangtuaku mengizinkan, tidak ada hal yang lebih membahagiakan daripada itu, kan?

Sewaktu aku menunggu hujan reda dengannya, diam-diam, aku tersenyum. Aku tidak tahu dia menyadari tindakanku tersebut atau tidak, yah karena saat itu sudah malam juga kan. Ada banyak orang yang menepi di tempat kami berteduh. Anak-anak muda, bapak-bapak, tukang gojek, dan beberapa suami istri beserta anak mereka. Aku masih ingat juga dia mengeluarkan handuk kecil yang bergambar...beruang, mungkin? dan menurutku itu sangat bayi sekali! Dia menawarkanku untuk memakai handuk kecil tersebut, awalnya aku pun menolaknya karena aku malu dengan gambar di handuk tersebut (akhirnya ku pakai juga untuk menutupi kepalaku)

Aku bersenda gurau berduaan di sana dan bermain beberapa permainan (dan aku selalu kalah). Sebagian besar tatapanku tertuju ke arahnya walaupun kami berdua sedang bermain. Aku tidak bisa merekam itu di barang elektronik manapun, untuk ku mainkan ulang di saat aku rindu, tetapi dengan merekamnya di pikiranku, aku merasa sudah cukup. Aku akan selalu ingat wajahnya, senyumnya, tawanya, postur badannya, semua ocehannya, dan betapa dia sangat bahagia ketika aku kalah bermain darinya.

Sebelumnya, aku memang benci hujan, tetapi sekarang tidak lagi. Setiap rintiknya, membawaku ke tempat dan waktu ketika aku bersama dengannya. Rintik yang bising di telinga, seakan kalah dengan canda tawanya. Aku mencintainya, dan kini aku pun mulai berdamai dengan hujan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memulai Semua Dari Nol

Belajar Memelihara Kucing Dengan Aplikasi “Neko Atsume”!

Doa yang Terjawab: Kuliah Online