Melankolia IV: Negosiasi Jiwa
Hal yang paling telat untuk ku sadari adalah bahwa aku telah mati pada saat itu. Selebihnya, aku hidup tanpa jiwa. Seperti layaknya layangan yang sedang malayang di angkasa. Tanpa angin dan paksaan dari tangan-tangan yang memaksanya terbang, layangan tersebut hanya akan tergeletak di tanah, tanpa manfaat apapun. Begitulah yang aku rasakan sekarang. Jiwaku melayang pergi. Ragaku seperti terbaring di atas tanah tanpa bisa aku mengumpulkan tekad untuk membangunkannya kembali. Walaupun tidak tampak, tetapi telah ada lubang di hatiku yang tidak dapat tertutup kembali. Hampa, suram, seakan aku tidak berdaya lagi di dunia ini. Semesta menghukumku dengan hukuman paling kejam, yaitu aku tidak dapat meneruskan masa depanku. Bagai lingkaran setan dan seakan aku hidup di dalamnya. Melompati adegan demi adegan yang selalu berulang di kepalaku. Hal itu pun membuat lubang di hatiku bertambah besar. Sekilas rasanya aku hanya tertawa. Aku menjinakkan diriku yang lainnya. Selebihnya, yang aku dapati h...