Melankolia III : Kenari di Dalam Teko
Terkadang, hidup sebercanda itu denganku. Menggelitik aku sampai aku menangis tersedu. Jika dilihat sekilas, aku tidak bisa beradu pandang dengan hidup itu sendiri. Sampai pada akhirnya, aku menyerah, dan aku berkata sambil mencaci, "Tidak punya rasa kau, wahai kehidupan! Ambil saja semua milikku dan rusak itu semua dalam satu waktu!". Hanya terkekeh saja dia terhadapku, padahal aku sudah kuatkan dan bulatkan tekadku untuk berkata seperti itu. Pernah sekali waktu, aku merenung sebelum tertidur. Akan jadi apakah aku nantinya. Sambil berucap-ucap, berkomat-kamit, satu.. dua... tiga... ayo jangan tidur dahulu! Tetap saja, mimpi lebih kuat daripada tekadku untuk merencanakan kehidupanku. Ya sudahlah, tak apa. Besok akan aku ulangi lagi dan semoga saja aku segera menemukan jawabannya. Apakah kalian pernah meilhat sesuatu begitu saksama? Aku pernah. Ku ceritakan pada kalian. Waktu itu sore hari, dan langit terasa begitu jingga menyilaukan sampai menusuk dagingku. Aku menemukan se...